Sabtu, 01 Oktober 2011

Materi Kajian Syawalan : Melestarikan Nilai Nilai Ramadhan Dalam Membentuk Karakter Bangsa

Oleh :Tulus Musthofa[i]


Ajaran Islam sudah sangat terang menjelaskan tujuan akhir beragama adalah membentuk akhlak yang mulia bahkan misi utama Nabi Muhammad SAW  diutus menjadi Rasul adalah untuk menyempurnakan Akhlak :
إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
Sungguh saya diutus menjadi rasul semata mata untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Semua syariat Islam mempunyai tujuan pembentukan akhlak.Salah satu ajaran islam yang sarat dengan nilai nilai pembentukan akhlak adalah ramadhan.Sebagai wahana pendidikan karakter ramadhan mengajarkan kepada kita mulai dari input, proses dan hasil dari suatu pendidikan

1.      Pertama Input .
Tidak semua orang bisa menjalani proses pendidikan ramadhan ,ada kriteria yang khusus yang harus dipenuhi sehingga orang layak menjalankan proses tersebut yaitu harus orang yang beriman.
Iman seseorang akan sangat menentukan sejauhmana keberhasilan sebuah pembentukan akhlak/karakter.
Allah Berfirman :
يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كُتِبَ عَلَى الذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
183.  Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
Seseorang yang imannya kuat akan lebih berpotensi untuk memiliki akhlak yang mulai :
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللّهُ
الأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ } [إبراهيم:24-25[
24.  Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah membuat perumpamaan kalimat yang baik[786] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
25.  Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.
Termasuk dalam Kalimat yang baik ialah kalimat tauhid, segala Ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik. kalimat tauhid seperti Laa ilaa ha illallaah.
Siapapun yang menhendaki terwujudnya sebuah akhlak yang mulya, baik pada dataran pribadi, keluarga, masyarakat maupun bangsa maka modal utamanya harus memiliki iman, semakin   kokoh  iman seseorang akan semakin berpeluang mempunyai akhlak yang mulia begitu pula sebaliknya jika iman lemah maka sulit akan mempunyai akhlak yang mulia , Rasulullah SAW bersabda :
أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم أخلاقا 
Orang mukmin yang paling sempurna imannya  mereka adalah yang paling baik akhlaknya.
Bulan ramadhan telah membuktikan bahwa betapapun Ramadhan penuh dengan kemuliaan ibadah didalamnya, akan tetapi hanya orang orang yang mempunyai energy iman yang cukup saja yang bisa menggunakan peluang tersebut, begitu juga hasil dari ibadah bulan ramadhan bagi bertambahnya ketaqwaan sangat ditentukan seberapa besar iman yang dimiliki seseoarang.Inilah rahasianya kenapa Rasulullah bersabda :
من صام رمضان إيمانا ً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه
Barangsiapa berpuasa atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa dosa yang lalu.
Usaha apapun untuk membentuk karakter bangsa tanpa dilandasi keimanan maka akan sia sia. Dari sini kita mempunyai kewajiban menekankan pendidikan keimanan kepada anak anak kita sedini mugkin sedalam mungkin begitu juga lembaga lembaga pendidikan kita agar masalah keimanan menjadi pondasi pendidikan kita.

2.      Kedua Proses.
Dalam hal ini dilakukan dengan bebarapa hal :
a.    Ibadah
Semua Ibadah dalam Islam disamping sebagai suatu kewajiban, jika dilaksanakan dengan benar dan baik akan berdampak pada prilaku yang positif, akan membentuk karakter. Jika kemudian suatu ibadah tidak menghasilkan prilaku yang baik maka dimata Allah akan sia sia termasuk puasa bulan ramadhan, Rasulullah bersabda
كــم مــن صائم ليس لــه مــن صيامــه الا الجـــوع والعــطش
Betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapat apa apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.
Untuk membentuk generasi yang unggul harus didorong agar anak anak kita menjadi generasi yang rajin ibadah.Apapun konsep pendidikan karakter yang tidak dibarengi dengan semangat beribadah maka akan sia sia dan kehilangan arah.
Disinilah kenapa Allah menyediakan beberapa keistimewaan ibadah dalam bulan ramadhan agar nantinya bisa mendukung keberhasilan misi puasa untuk menjadi orang yang taqwa
b.    Ilmu
Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya alquran dan didahului dengan ayat iqra’ bacalah yang menekankan umat ilsam  agar orang Islam  menjadi orang yang berilmu khususnya terkait dengan kandungan alquran.
Menyiapkan generasi yang berkarakter dan berakhlak mulia harus dengan mengajarkan alquran : membacanya ,memahaminya, menghafalkannya dan mengamalkannya:
ان هذا القران يهدى للتى هي اقوم
9.  Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,
c.     Menciptakan lingkungan yang baik dan menjauhkan dari lingkungan yang jelek
Lingkungan yang baik akan akan memberi pengaruh yang besar pada pembentukan akhlak yang baik, begitu pula sebaliknya lingkungan yang jelek juga akan berpengaruh pada karakter seseorang.Tidak sedikit orang yang asalnya baik ketika dilingkungan yang mendukungnya ketika berada dilingkungan yang jelek berubah pula menjadi jelek.
Ketika datang ramadhan kata Rasuulullah SAW mengatakan dibukalah pintu pintu sorga,ditutup pintu neraka dan dibelenggulah syaithan.
Hadist ini memberi isyarat bagaimana pentingnya lingkungan yang baik, suasana relegius dengan banyaknya keutamaan ibadah, begitu juga kondisi yang biasa mendorong pebuatan jelek berupa hawa nafsu dan syaithan dijauhkan dengan berpuasa.
Usaha apapun untuk membentuk generasi yang berkarakter/ berakhlak mulia akan sia sia ketika tidak diciptakan lingkungan yang baik dimulai dari keluarga, lembaga pendidikan dan masyarakat
d.    Melatih kepedulian sosial
Salah satu nilai yang sangat asasi didalam menjalankan ibadah puasa adalah mengasah kecerdasan social dan hal ini langsung dicontohkan oleh Rasulullah SAW dimana kalau Rasulullah diluar ramadhan memang seorang pemurah maka lebih lebih ketika dibulan ramadhan yang digambarkan seperti angin yang menghembus kencang.
Puasa dan sedekah bisa melahirkan karakter sosial yang positif; melahirkan rasa kepedulian terhadap sesama. Rasa lapar dan dahaga bisa membuat seorang mukmin terdorong meringankan penderitaan sebagian masyarakatnya. Sedekah juga menepis sifat kikir dan pelit serta melatih seseorang untuk peduli dan mengasihi sesama.  Allah SWT.  berfirman: “ Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka”. (QS At-Taubah 103).

3.      Ketiga Out Put
Jika inputnya baik begitu prosesnya maka akan menghasilkan hasil yang baik yaitu berupa akhlak/ karakter yang digambarkan oleh al qur’an sebagai orang taqwa yang diantara kriterianya adalah seperti yang tercantum didalam surat ali imran ayat 134 dan ayat 135 yang artinya:
134.  (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
135.  Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri[229], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui.

Sungguh sangat indah jika nilai nilai yang ada didalam ramadhan kita teruskan setelah kita ber-iedul fitri yang nantinya tidak hanya bermanfaat bagi kehidupan kita secara pribadi tapi juga akan menyelamatkan bangsa ini dari malapetaka yang tidak kita inginkan bersama, karena ketika nilai nilai ramadhan kita terapkan dalam kehiidupan diluar ramadhan akan membentuk karakter/ akhlak yang mulia bagi kita semua. Wallahu a’lam



[i] Disampaikan dalam acara syawalan PAUDIT Salman AL farisi 3 Ahad 25 September 2011

Minggu, 25 September 2011

PERAN KOMITE SEKOLAH SALMAN AL FARISI 3

A.    Pendahuluan
Dalam suatu pertemuan seorang pembicara bernah berkelakar bahwa kalimat pertama yang umumnya diucapkan oleh orang tua yang akan menyekolahkan anakknya ke PAUD adalah “Saya mau menitipkan anak saya, paling sore sampai jam berapa ya?”. Ungkapan ini setidaknya mewakili motivasi awal sebagian besar orang tua dalam menyekolahkan anaknya ke PAUD yaitu dengan maksud “menitipkan”.
Menitipkan anak ke PAUD meruapakan hal yang lumrah dan merupakan suatu kebutuhan tersendiri bagi orang tua agar dapat beraktifitas, baik bekerja maupun sekolah, selama anaknya dititipkan. Namun yang perlu diperhatikan adalah apapun yang diberikan kepada anak di sekolah oleh gurunya memerlukan kesinambungan di rumah. Di sinilah orang tua  berperan sebagai “guru utama”.
Demi menjaga kesinambungan antara sekolah dan rumah itulah maka gagasan adanya komite sekolah lahir. Gagasan ini jugalah yang mengilhami dibentuknya Komite Sekolah SAF 3.
Secara normatif pembentukan Komite Sekolah bertujuan yaitu : (a) mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat khususnya orang tua dalam melahirkan kebijakan dan program pendidikan; (b) meningkatakan tanggung jawab dan peran serta aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan; (c) menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel dan demokratis dalam penyelenggaran dan pelayanan pendidikan yang bermutu.
           
B.     Peran Komite SAF 3
Peran yang dijalankan Komite Sekolah adalah sebagai pemberi pertimbangan penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan. Badan tersebut juga berperan sebagai pendukung baik yang berwujud finansial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaran pendidikan. Komite Sekolah juga berperan sebagai pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan  serta sebagai mediator antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat .
Secara nasional, fungsi komite sekolah, berdasarkan (Bagian Proyek Publikasi dan Sosialisasi Pendidikan Diejen Dikdasmen Depdiknas, 2003:19) Indikator Kinerja Komite Sekolah, Jakarta, 2003 sebagai berikut.
Tabel 1.Indikator Kerja Komite Sekolah

Peranan Komite Sekolah
Fungsi Manajemen Pendidikan
Badan Pertimbangan (Advisory Agency)
1.      Perencanaan Sekolah

2.      Pelaksanaan Program
a.      Kurikulum
b.      KBM
c.      Penilaian

3.      Pengelolaan Sumber
a.       SDM
b.      Sarpas
c.       Anggaran
Badan Pendukung (Suporting Agency)
1.      Pengelolaan Sumber daya

2.      Pengelolaan sarana dan prasarana

3.      Pengelolaan anggaran
Badan Pengontrol (Controlling Agency)
1.      Mengontrol Perencanaan pendidikan di sekolah

2.      Memantau pelaksanaan program sekolah

3.      Memantau out put pendidikan
Badan Penghubung (Mediator Agency)
1.      Perencanaan

2.      Pelaksanaan Program

3.      Pengelolaan sumber daya pendidikan


Sumber : Bagian Proyek Publikasi dan Sosialisasi Pendidikan, Dirjen Dikdasmen Depdiknas Jakarta, 2003

Tabel di atas setidaknya memberikan gambaran umum mengenai peran utama Komite Sekolah. Dalam konteks PAUD/TKIT SAF 3 yang orang tua muridnya memiliki beragam kesibukan, akan muluk-muluk rasanya mengharapkan partispasi total dari semua orang tua untuk menjalankan empat fungsi di atas.

Namun setidaknya masing-masing orang tua harus memiliki semangat dalam berkontribusi terhadap pendidikan di SAF 3 melalui komite sekolah melalui kebisaannya masing-masing. Bagi yang memiliki waktu dan tenaga sumbangsihnya dapat berupa waktu dan tenaga dalam setiap pertemuan dan kegiatan. Bagi yang tidak memiliki rizki berlebih, sumbangsihnya dapat berupa donasi untuk kegiatan-kegiatan komite bersama sekolah. Bagi yang bias menulis, sumbangsihnya dapat berupa tulisan-tulisan mengenai parenting yang nantinya dipublikasikan melalui Buletian atau Blog Komite. Bagi yang belum diberikan kemudahan untuk berkontribusi minimal dapat memberikan perhatian terhadap program-program yang dilaksanakan sekolah maupun Komite.
Intinya dibutuhkan keperdulian bersama terhadap jalannya pendidikan di PAUD/TKIT SAF 3 karena menyekolahkan anak bukan berarti kita pasrah total terhadap sekolah dan menerima jadinya saja, namun juga diperlukan adanya perhatian kita dalam proses pendidikan yang berlangsung.


Rahadian Akbar



Kamis, 11 Agustus 2011

TIPS AGAR ANAK MENAATI PERATURAN


  1. Hal-hal yang perlu diterapkan dalam usaha mendisiplinkan anak :
  • Mulailah dari hal-hal yang kecil dulu, kemudian secara bertahap ke tingkat selanjutnya.
  • Awal dari disiplin adalah komunikasi yang baik dan sederhana.
  • Konsisten pada aturan disiplin yang telah dibuat.
  • Konsisten antara ayah-ibu supaya tidak menimbulkan kebingungan pada anak. Buatlah kesepakatan tentang peraturan yang harus dijalankan di rumah.
  • Terapkan pemberian reward dan punishment (hukuman).
  • Pemberian perintah dan aturan yang disertai dengan penjelasan mengapa harus begini, mengapa harus begitu.
  • Mendampingi anak mengerjakan apa yang diperintahkan untuk menciptakan suasan yang menyenangkan, misalnya pada saat anak disurh membereskan mainannya.
  • Teknik disiplin yang digunakan, sebaiknya memakai dialog yang penuh kasih sayang dan kehangatan.
  • Bahasa yang digunakan sebaiknya yang sederhana saja, apalagi si anak masih tergolong balita. Gunakan juga bahasa anak (berdasarkan pada pola pikir animisme anak). Dengan demikian si anak akan lebih bisa menerimanya.
  • Aturan disiplin dibuat sedemikian rupa sehingga bahaya dari luar / sisi negatifnya bisa diminimalkan.
  • Perhatikan usia anak. Aturan disiplin akan berbeda-beda tiap tingkatan tahap perkembangan. Bila masih kecil (baru 1-2 tahun), kesabaran sangatlah mutlak karena mereka cenderung egosentris. Jadi, maklumlah.
  • Hormati perasaan anak dan hargai juga waktunya.
  • Berikan pilihan/alternatif.
  • Kerahasiaan aturan disiplin supaya tidak menjatuhkan harga diri si anak.
  • Peringatkan lebih awal tentang apa-apa yang harus dilakukannya supaya ia bisa bersiap-siap untuk aturan tersebut.
  • Berikan perintah dengan tegas dan lebih spesifik.
  • Tekankan pada hal-hal positif
  • Ketidaksetujuan baiknya ditunjukkan pada perilaku si anak, bukan si anak itu sendiri.
  • Berikan contoh/teladan yang baik karena anak-anak bisa meniru perilaku orang tuanya. Dengan demikian, orang tua bukan hanya sebagai penegak aturan tetapi juga pelaksana aturan.
  • Sertakan rasa humor.
  1. Hal-hal yang harus dihindari dalam usaha mendisiplinkan anak :
  • Terlalu sering membri ancaman (lebih-lebih pada anak yang pandai) karena ia malah akan balik menentang.
  • Mendisiplinkan anak dalam keadaan emosi
  • Aturan disiplin yang memaksa, otoriter, keras, dan sangat ketat.
  • Selalu mengatakan, “Aku ingin…” (bagi orang tua)
  • Orang tua itu sendiri tidak disiplin, sehingga si anak pun menirunya.
  1. Aturan-Aturan yang Penting Saat Memberikan Reward Kepada Anak:
  • Hadiah diberikan dengan tujuan tertentu, sebagai dorongan pada anak untuk tetap mempertahankan tingkah laku atau prestasinya yang baik.
  • Bila tujuannya ingin mengubah tingkah laku anak sebaiknya jangan memberikan hadiah barang, kecuali untuk pertama kali dalam jangka waktu yang panjang, misalnya saat anak masuk sekolah, belikan tas atau buku.
  • Bila anak sudah terlanjur menyukai hadiah barang, ubahlah dengan sikap yang sabar, ulet, dan konsisten. Perubahan ke hadiah non barang pun harus dilakukan secara bertahap dan jangan memaksa.
  • Kekompakan antara ayah dan ibu dalam memberikan reward.
  • Bila akan memberikan hadiah non barang, lakukan dengan sungguh-sungguh, dalam arti ungkapan kasih sayang, seperti pelukan atau ciuman diberi dengan tulus.
  • Konsisten dalam memberi hadiah non barang.
  • Hadiah non-barang harus proporsional, efisien dan tepat waktu.
  • Adakah evaluasi seusai hadiah diberikan, apakah ada penguatan perilaku pada anak.
  • Reward jangan diberikan secara berlebih-lebihan.
  • Reward baiknya berujung pada reinforcement positif.
  1. Aturan-Aturan yang Penting Saat Memberikan Hukuman Kepada Anak :
  • Jangan berikan pada anak yang masih tergolong balita karena mereka belum mengerti alasan mengapa mereka dihukum, akibatnya mereka bisa menjadi frustasi.
  • Hukuman harus bersifat mendidik
  • Informasikan terdahlu akan adanya sanksi tertentu dari perilakunya yang tidak menyenangkan orang tuanya.
  • Adakan evaluasi seusai hukuman diberikan, apakah ada perubahan kesadaran dalam diri si anak.
  • Jangan lakukan hukuman dibawah pengaruh emosi yang tak terkontrol.
  • Hindarkan hukuman fisik
  • Berikan hukuman dengan tegas. Bila anak merengek jangan langsung lemah hati dan menyerah.
  • Perhatikan korelasi antara hukuman dan perilaku.
  • Hukuman badan hanyalah dipandang sebagai jalan terakhir.
  1. Beberapa Fakta Mengapa Hadiah Barang Bisa Menjadi Tidak Efektif :
  • Anak menjadi materialistis
  • Anak menjadi konsumtif.
  • Orang tua bisa tekor.
  • Anak bersikap baik bukan karena kesadaran diri, tetapi karena keinginan untuk mendapatkan barang tersebut.
  1. Beberapa Fakta Mengapa Hukuman Badan Bisa Menjadi Tidak Efektif :
  • Anak menjadi frustasi
  • Anak bisa menjadi resisten (kebal) terhadap hukuman tersebut.
  • Anak cenderung membiarkan dirinya dihukum daripada melakukan perbuatan yang diharapkan kepadanya.
  • Anak cenderung melampiaskan kekesalannya pada hukuman tersebut dengan memukul anak lain.
  • Menimbulkan dampak psikologis jangka panjang, dimana rasa marah, sakit hati dan jengkel akan dipendam selamanya oleh si anak.
  • Akan terbentuk rasa ketidakberdayaan (sense of helpesness).
  • Anak tidak akan belajar apapun dari hukman badan.
Baik reward maupun hukuman, janganlah asal-asal diberikan, melainkan harus mampu membangun/mengukuhkan konsep diri individu. Waktu diberikannya reward atau hukuman pun harus langsung pada saat prilaku yang diinginkan/tidak diinginkan itu terjadi. Jangan menundanya terlalu lama. 

Sumber : Kumpulan Artikel Pendidikan Anak Islam (dengan proses editing)
Dimuat dalam Buletin Suara Salman 3 Edisi 3, Mei 2011

Berlatih Tanggungjawab Dari Hal Kecil Bagi si Kecil


            “Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya”, tentu kita semua sudah familiar dengan peribahasa tersebut. Pada umumnya orang suka sekali menghubungkan perilaku seorang anak karena pengaruh keturunan. Pernahkah terbesit bahwa bukan keturunan genetika yang mempengaruhi seorang anak dalam bersikap, akan tetapi karena si cilik dengan cepatnya dapat mencontoh apa yang diperbuat orang tuanya. Sama halnya dalam bertanggungjawab, terkadang bukan si anak sulit untuk dididik akan tetapi mungkin banyak contoh yang tidak mendukung.
            Dalam hal bertanggungjawab, anak akan cenderung terlatih dengan kebiasaan-kebiasaan kecil yang diterapkan, seperti contohnya anak yang terbiasa dengan lingkungan yang berantakan akan memiliki kebiasaan yang seperti itu juga, akan sulit sekali tentunya melatih si kecil untuk bertanggungjawab, sepeti halnya dengan membereskan mainannya sesudah bermain karena lingkungan dan “role model” tidak dapat jadi andalan.
            Selain role model, si cilik juga memerlukan komunikasi “ala” si cilik, sewaktu mengharapkan si cilik untuk menaruh kembali buku yang sudah dibacanya sedapat mungkin dideskripsikan dengan menyenangkan, jangan membentak atau berkata kasar karena tentunya si cilik akan cenderung bersifat menolak. Jangan lupa untuk membantunya sambil mengucapkan pujian atau apresiasi atas kemauan dan usahanya. Kadang anda dapat memberikan kado kecil, tidak perlu berupa benda tetapi dapat berupa hal-hal yang si cilik impikan untuk lakukan bersama anda. Dan perlu diingat, di saat si cilik mendapatkan ganjaran karena tidak melakukan tanggungjawabnya, hindari sifat menghakimi, komunikasikan dengan baik nasihat-nasihat yang anda berikan. Lagipula, banyak riset yang membuktikan bahwa anak kecil, dan juga manusia pada umumnya, akan memberikan reaksi positif terhadap sesuatu yang bersifat rewards (hadiah) ketimbang punishments (hukuman).
            Selain itu, komunikasi dengan si cilik harus juga memperhatikan waktu. Sewaktu anak sedang membandel atau aktif bermain, umumnya si cilik tidak menyerap nasehat yang anda berikan dengan maksimal. Oleh karena itu, nasehati dia sewaktu sedang beristirahat seperti saat sebelum tidur. Sampaikan dengan penuh kasih dan selalu imbangi dengan pelukan dan kecupan saang, karena ekspresi sayang biasanya selalu mempengaruhi perkembangan sifat dan sikap anak.
Lingkungan rumah sebagai lingkungan inti juga sangatlah berperan. Oleh karena itu pastikan bahwa orang-orang terdekatnya melakukan atau menerapkan hal yang sama, supaya tidak ada kesempatan bagi si cilik untuk menghindar. Dan juga, selalu memberikan kesempatan di mana anak dapat melakukan sesuatu secara mandiri. Biarkan dia berkreasi karena ini akan dapat mengembangkan sifat tanggung jawab dan bertanggungjawab terhadap hal kecil tentunya akan mempersiapkan si cilik dalam menghadapi sesuatu yang lebih besar. Walaupun ada kemungkinan bahwa si cilik dapat dengan sendirinya berkembang menjadi sosok yang melepaskan tanggungjawabnya. Tidak ada salahnya mengisi sifat bertanggungjawab ini sebagai inventaris positif bagi masa depan anak, terlebih di saat dia sedang dalam proses pembentukan pada usia dini.
Be The Best Parents You Are…

 Dimuat dalam Suara Salman 3 Edisi 3 Mei 2011

Menghafal Al-Qur’an, Siapa Takut….!!!


          Menghafal Al Qur’an adalah keharusan bagi semua muslim. Dalam Al Qur’an surat Al Hijr ayat 9 Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami (Allah SWT) yang menurunkan Al Quran ini, dan Kami pula yang menjaganya. Pada ayat ini terdapat isyarat bahwa Allah SWT akan menjaga dan melestarikan Al Qur’an ini dari tangan-tangan jahil yang berusaha merubahnya, menghapus atau bahkan menambahkan ayat-ayatnya seperti yang terjadi pada kitab-kitab suci terdahulu. Melalui apa Allah SWT menjaga Al Qur’an ini? Atau dengan instrumen apa Allah SWT menjaganya? Ayat ini mengisyaratkan ahwa penjagaan Allah yaitu mereka para huffazh (penghafal Al Qur’an). Wow… !! Sungguh nikmat dan mulia kedudukan mereka para huffazh yang menjadi andalan Allah SWT dalam melestarikan Al Qur’an ini. Pantas dalam sebuah hadits mereka diakui oleh Allah SWT sebagai Ahlullah wa Ahhibba-uh (keluarga Allah dan para kekasihNya).
            Lalu, bukankah menghafal l Qur’an itu tidak mudah? Bukankah menghafal Al Qur’an itu membuat kita susah? Jawabannya…, “mudah kok…” Lho kok bisa…?!

Adanya Jaminan Allah
            Allah SWT menjamin akan memudahkan menghafal Al Qur’an bagi hambanya. Dalam Surah Al Qomar ayat 17 Allah SWT sampai empat kali mengulang firmanNya, yang artinya: “Dan sungguh pasti telah kami mudahkan Al Qur’an ini untuk diingat (dihafal), maka adakah yang mau mengingatnya (menghafalnya)? Ayat ini mengandung dua penekanan atau pengauatan bahasa pertama, Lam attaukid yang berarti kesungguhan dalam kandungan kata kerjanya. Artinya, sungguh Allah SWT pasti akan memenuhi janjiNya itu. Dan yang ketiga, penggunaan fi’il madhi (kata kerja bentuk lampau) , yang mengisyaratkan kejadian itu sudah berlangsung dan selesai. Artinya Allah SWT sejak zaman azali telah memudahkan dalam menghafal Al Qur’an.
            Oleh karena itu, maka ini merupakan jaminan dari Allah SWT yang sudah pasti akan memudahkan dalam menghafal Al Qur’an. Adakah jaminan yang lebih pasti dari jaminan Alah SWT dengan ketiga instrumen penguatan itu?
            Permasalahannya adalah pada ujung ayat di atas, yaitu tantangan dari Allah SWT: “Maka adakah orang yang mau menghafalnya?” Kebanyakan dari kita tidak mau menghafalnya, maka menjadi susahlah ia untuk menghafal. Mayoritas kita takut menghafalnya, karena takut gagal, terbebani, menjadi lemah dibidang keilmuan yang lain, dan segudang alasan lainnya, baik yang sesungguhnya maupun alasan yang dibuat-buat.

Menghafal Al Qur’an Tidak Akan Menyebabkan Kesusahan
            Dalam Surah Thaha ayat 2-3 Allah menjelaskan bahwa Al Qur’an ini tidak akan membawa kesusahan bagi manusia. Bahkan sebaliknya, ia akan menjadi obat, pelipur lara dan penyembuh dari berbagai penyakit dan kesusahan. Dan dalam Surah Al Isra’ ayat 82 Allah SWT berfirman yang artinya “Dan Kami turunkan dari Al Qur’an ini sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Bertolak dari ayat-ayat tersebut, maka rasa khawatir atau takut dalam menghafal Al Qur’an harus dibuang jauh-jauh, karena semua itu tidak akan terjadi bahkan sebaliknya semakin banyak ayat Al Qur’an yang dihafal, maka semakin banyak pulalah rahmat yang kita dapati.

MANFAAT MENGHAFAL AL-QURAN
  1. Al Qur’an membawa fitrah manusia.
Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Dengan Al Qur;an fitrah ini akan tetap terjaga. Al Qur’an senantiasa membimbing kepada jalan yang paling benar dan lurus. Demikian yang Allah kabarkan kepada manusia melalui firmanNya. Dalam Surat Al Isra’ ayat 9 yang artinya “Sesungguhnya Al Qur;an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka adalah pahala yang besar.
  1. Al Qur’an adalah cahaya kehidupan.
Seperti matahari bagi bumi, Al-Qur’an adalah cahaya bagi kehidupan manusia. Sesungguhnya Alah telah menjadikan Al Qur’an sebagai ruh dan cahaya bagi ruh dan jiwa manusia, sesuai dengan firman Allah alam Surat Asy Syura: 52 dan Surat Al Anfal ayat 24. Apakah sesungguhnya yang memberi kehidupan kepada manusia? Jawabannya adalah Lafazh-lafazh Al Qur’an. Lafazh-lafazh Al-Quran membawa makna dan pengaruh kepada manusia yang dikehendakiNya, dan sesungguhnya itu merupakan suatu kenikmatan dan manfaat yang besar, sebab makna dan pengaruh yang dibawa oleh lafazh-lafazh itu menggetarkan hati, melembutkan jiwa, dan memperbaiki kualitas iman dan ketakwaan kita. Salah satu bentk murka Allah SWT kepada manusia berdosa adalah: meghalangi makna dan pengaruh lafazh-lafazh itu dari hati seorang manusia. Inilah yang menjeaskan kenapa ketika dua manusia mendengar lafazh yang sama, yang seorang bisa bergetar kulit tubuhnya, dan bercucuran air matanya, sementara seorang lainnya tak bergeming dan tak merasakan apa-apa. Sesungguhnya ruh lafazh-lafazh Al Qur’an berada di tangan Allah, Allah-lah yang mengirimkan kapanpun dia kehendaki dengan hikmah dan peraturannya.
  1. Al Quran Pintu gerbang Kecerdasan Fisik, Intelektual, Emosional dan Spiritual
Manusia membutuhkan empat kecerdasan untuk sukses dunia akherat, kecerdasan fisik, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan sprirtual. Sehat saja tak menjadi berguna tanpa kecerdasan lainnya. Kecerdasan intelektual menjadi pincang tanpa didukung kecerdasan lainnya, banyak mahasiswa dengan indeks prestasi tinggi yang ternyata hanya menjadi pengangguran belaka. Ia tidak mampu mengembangkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain sehingga jangankan menjadi pemimpin, menjalin hubungan yang baik dalam suatu organisasi pun ia gagal.
Sehat, cerdas, dan mapan secara emosional pun belum sempurna. Pejabat yang korup itu tentulah orang berilmu, pasti juga orang yang pandai memimpin dan dipimpin, jago melobi dan bernegosiasi, serta berbagai jenis kecerdasan emosional lainnya. Tetapi karena miskin spiritualnya maka ia tidak tahan terhadap godaan harta, inilah yang membuatnya melakukan tindakan tercela yang akhirnya harus membuatnya terkurung dipenjara sebagai koruptor. Al Quran adalah pintu gerbang menuju kecerdasan fisik, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.

Yohana Latifah (disarikan dari buku "Metode Fahim Qur'an Menghapal Al Qur'an dengan cepat dan menyenangkan 

Pernah dipublish sebelumnya dalam Suara Salman 3 Edisi 2 Januari 2011